Software ATLAS.ti


Pengertian ATLAS.ti

ATLAS.ti merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk membantu peneliti dalam mengolah dan menganalisis data penelitian kualitatif. Perangkat lunak ini dapat digunakan untuk mengorganisasi, mengode, mengelompokkan, mengeksplorasi, dan menafsirkan berbagai jenis data yang bersifat tidak terstruktur atau semi-terstruktur.

Data penelitian kualitatif biasanya berupa wawancara, hasil observasi, dokumen, catatan lapangan, artikel, laporan, foto, rekaman suara, dan video. Jika data tersebut dianalisis secara manual, peneliti dapat mengalami kesulitan dalam mengelola data yang jumlahnya banyak. ATLAS.ti membantu peneliti mengatur data tersebut agar lebih sistematis.

Nama ATLAS.ti berasal dari istilah yang berkaitan dengan penggunaan teknologi untuk membantu analisis data kualitatif. Perangkat lunak ini dikembangkan sebagai salah satu perangkat analisis data kualitatif berbantuan komputer atau Computer-Assisted Qualitative Data Analysis Software (CAQDAS).

Secara sederhana, ATLAS.ti dapat dipahami sebagai alat bantu untuk menjawab pertanyaan:

"Dari sekumpulan data penelitian yang banyak, tema, pola, konsep, dan hubungan apa yang dapat ditemukan?"

ATLAS.ti tidak menggantikan peneliti dalam melakukan interpretasi. Perangkat lunak ini membantu peneliti mengatur dan menelusuri data, sedangkan penentuan makna dan kesimpulan tetap membutuhkan pertimbangan peneliti berdasarkan data, teori, dan tujuan penelitian.

Fungsi ATLAS.ti

ATLAS.ti mempunyai berbagai fungsi yang dapat digunakan dalam proses penelitian kualitatif.

1. Mengelola data penelitian

ATLAS.ti dapat digunakan untuk mengumpulkan berbagai data penelitian dalam satu proyek.

Data yang dapat dikelola antara lain:

  • dokumen teks;
  • hasil wawancara;
  • PDF;
  • catatan lapangan;
  • gambar;
  • audio;
  • video;
  • data dari survei tertentu;
  • data hasil observasi.

Dengan demikian, peneliti tidak perlu mengelola seluruh data secara terpisah.

2. Melakukan pengodean data

Salah satu fungsi utama ATLAS.ti adalah melakukan coding atau pengodean.

Pengodean merupakan proses memberikan tanda atau label pada bagian data yang dianggap memiliki makna tertentu sesuai dengan fokus penelitian.

Contohnya, seorang peneliti melakukan wawancara mengenai pengalaman nasabah menggunakan layanan bank syariah.

Responden mengatakan:

"Saya memilih bank syariah karena ingin menggunakan layanan perbankan yang sesuai dengan prinsip syariah."

Kalimat tersebut dapat diberi kode:

Alasan memilih bank syariah

atau:

Kepatuhan terhadap prinsip syariah

Kode tersebut membantu peneliti mengelompokkan pernyataan yang memiliki makna serupa.

3. Mengelompokkan data

Setelah data diberi kode, kode-kode tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan tema tertentu.

Contohnya:

Tema:

Faktor pemilihan bank syariah

Kode:

  • prinsip syariah;
  • kualitas pelayanan;
  • lokasi;
  • biaya;
  • rekomendasi keluarga.

Pengelompokan tersebut membantu peneliti melihat tema yang muncul dari data.

4. Menemukan pola dalam data

ATLAS.ti dapat membantu peneliti menemukan pola yang muncul secara berulang dalam data.

Misalnya, dari 20 wawancara ditemukan bahwa sebagian besar responden menyebut:

  • kemudahan transaksi;
  • pelayanan;
  • keamanan;
  • prinsip syariah.

Peneliti dapat melihat bahwa beberapa faktor tersebut sering muncul dalam data penelitian.

5. Membuat hubungan antarkonsep

ATLAS.ti memungkinkan peneliti menghubungkan kode, kategori, kutipan, dokumen, dan konsep tertentu.

Hubungan tersebut dapat divisualisasikan dalam bentuk jaringan.

Contohnya:

Kualitas Pelayanan
↓
Kepercayaan
↓
Loyalitas

Hubungan tersebut dapat digunakan untuk membantu peneliti memahami struktur konsep yang ditemukan dalam penelitian.

6. Membantu proses analisis tematik

ATLAS.ti dapat digunakan dalam analisis tematik untuk menemukan tema-tema utama dari data kualitatif.

Misalnya penelitian mengenai pengalaman mahasiswa menggunakan layanan perbankan digital menghasilkan tema:

  • kemudahan;
  • keamanan;
  • kecepatan;
  • kendala teknologi;
  • kepuasan.

7. Membantu pencarian data

Jika sebuah penelitian mempunyai ratusan halaman hasil wawancara atau dokumen, ATLAS.ti dapat membantu peneliti mencari bagian data yang telah diberi kode tertentu.

Hal ini membuat proses penelusuran data menjadi lebih terorganisasi.

Jenis Data yang Dapat Dianalisis

ATLAS.ti dapat digunakan untuk berbagai jenis data penelitian.

1. Data teks

Contohnya:

  • transkrip wawancara;
  • catatan observasi;
  • dokumen;
  • laporan;
  • artikel;
  • surat;
  • catatan lapangan.

2. Data PDF

Dokumen PDF dapat digunakan sebagai sumber data untuk dianalisis.

Misalnya:

  • laporan tahunan;
  • dokumen kebijakan;
  • artikel ilmiah;
  • laporan organisasi.

3. Data gambar

Gambar dapat digunakan sebagai sumber data penelitian.

Misalnya dalam penelitian sosial atau pendidikan, peneliti dapat menganalisis foto yang berkaitan dengan kondisi lapangan.

4. Data audio

Rekaman wawancara atau diskusi dapat digunakan dalam proses analisis.

5. Data video

Video dapat dianalisis untuk melihat berbagai informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.

Dengan kemampuan tersebut, ATLAS.ti dapat digunakan dalam penelitian yang tidak hanya menggunakan data teks.

Konsep Dasar dalam ATLAS.ti

Untuk memahami penggunaan ATLAS.ti, terdapat beberapa istilah penting yang perlu diketahui.

1. Project

Project merupakan ruang kerja penelitian di dalam ATLAS.ti.

Dalam satu proyek, peneliti dapat menyimpan:

  • dokumen;
  • kutipan;
  • kode;
  • kategori;
  • memo;
  • jaringan;
  • hasil analisis.

Contohnya, penelitian mengenai kepuasan nasabah dapat dibuat sebagai satu project dengan seluruh data penelitian berada di dalamnya.

2. Document

Document merupakan sumber data yang dimasukkan ke dalam project.

Contohnya:

  • transkrip wawancara;
  • artikel;
  • PDF;
  • catatan observasi;
  • gambar;
  • audio;
  • video.

3. Quotation

Quotation merupakan bagian tertentu dari data yang dipilih peneliti untuk dianalisis.

Misalnya, dari transkrip wawancara terdapat satu paragraf yang dianggap penting. Bagian tersebut dapat ditandai sebagai quotation.

Quotation tidak harus selalu berupa satu kalimat. Bagian yang dipilih dapat berupa kata, kalimat, paragraf, atau bagian tertentu dari data.

4. Code

Code merupakan label yang diberikan kepada bagian data tertentu.

Contohnya:

Kutipan:

"Saya merasa transaksi melalui aplikasi lebih mudah karena tidak perlu datang ke bank."

Kode:

Kemudahan transaksi digital

Code membantu peneliti mengidentifikasi bagian-bagian data yang mempunyai makna tertentu.

5. Code Group

Code Group merupakan kelompok kode yang digunakan untuk mengorganisasi kode berdasarkan kategori atau tema tertentu.

Contohnya:

Code Group:

Faktor penggunaan mobile banking

Berisi kode:

  • kemudahan;
  • kecepatan;
  • keamanan;
  • efisiensi.

6. Memo

Memo merupakan catatan yang dibuat peneliti selama proses analisis.

Memo dapat digunakan untuk mencatat:

  • pemikiran peneliti;
  • interpretasi sementara;
  • pertanyaan penelitian;
  • hubungan antarkonsep;
  • ide yang muncul selama analisis;
  • keputusan metodologis.

Memo penting karena proses penelitian kualitatif sering berkembang seiring peneliti memahami data.

7. Network

Network merupakan tampilan visual yang digunakan untuk menggambarkan hubungan antara berbagai unsur dalam penelitian.

Misalnya:

Kemudahan
↓
Penggunaan Mobile Banking
↓
Kepuasan

Network dapat membantu peneliti melihat hubungan antarkode atau konsep secara lebih jelas.

Proses Coding dalam ATLAS.ti

Coding merupakan salah satu bagian paling penting dalam penggunaan ATLAS.ti.

Secara umum, proses coding dapat dilakukan melalui beberapa tahap.

Tahap 1: Membaca data

Peneliti membaca seluruh data terlebih dahulu agar memahami isi data secara keseluruhan.

Misalnya peneliti memiliki 15 transkrip wawancara.

Peneliti perlu memahami isi wawancara sebelum memberikan kode.

Tahap 2: Menentukan bagian yang relevan

Peneliti memilih bagian data yang berkaitan dengan pertanyaan penelitian.

Misalnya penelitian membahas alasan mahasiswa menggunakan bank syariah.

Pernyataan responden mengenai alasan menggunakan bank syariah dapat dipilih sebagai bagian yang relevan.

Tahap 3: Memberikan kode

Bagian data tersebut kemudian diberikan kode.

Contohnya:

"Saya menggunakan bank syariah karena ingin transaksi sesuai prinsip Islam."

Kode:

Prinsip syariah

Tahap 4: Membandingkan kode

Setelah banyak data diberi kode, peneliti membandingkan kode yang mempunyai makna serupa.

Misalnya:

  • prinsip syariah;
  • kepatuhan syariah;
  • menghindari riba.

Ketiganya dapat dipertimbangkan untuk dikelompokkan dalam tema yang berkaitan dengan alasan religius atau kepatuhan syariah, sesuai kerangka penelitian.

Tahap 5: Membentuk kategori

Beberapa kode dapat dikelompokkan menjadi kategori yang lebih luas.

Contohnya:

Kategori:

Faktor internal

Kode:

  • prinsip syariah;
  • kebutuhan;
  • kepercayaan.

Kategori:

Faktor eksternal

Kode:

  • promosi;
  • rekomendasi;
  • lokasi;
  • pelayanan.

Tahap 6: Menentukan tema

Kategori yang mempunyai hubungan dapat dikembangkan menjadi tema penelitian.

Misalnya:

Faktor yang memengaruhi penggunaan bank syariah.

Jenis Coding

Dalam penelitian kualitatif, proses pengodean dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan.

1. Open Coding

Open coding merupakan tahap awal ketika peneliti memberikan kode pada bagian data yang dianggap relevan.

Pada tahap ini, peneliti berusaha mengenali berbagai konsep yang muncul dari data.

Contohnya:

Pernyataan:

"Saya menggunakan aplikasi bank karena lebih praktis."

Kode:

Kepraktisan

Pernyataan:

"Saya tidak perlu datang ke kantor cabang."

Kode:

Tidak perlu datang ke bank

Kedua kode tersebut kemudian dapat dikaji kembali untuk menemukan kategori yang lebih luas.

2. Axial Coding

Axial coding digunakan untuk melihat hubungan antara kode dan kategori yang telah ditemukan.

Misalnya:

Kemudahan transaksi

berhubungan dengan:

  • kepraktisan;
  • menghemat waktu;
  • tidak perlu datang ke bank.

Peneliti kemudian dapat menghubungkan kode tersebut dalam satu kategori.

3. Selective Coding

Selective coding digunakan untuk mengembangkan hubungan antarkategori sehingga dapat membentuk konsep utama atau penjelasan yang lebih menyeluruh.

Penggunaan istilah open coding, axial coding, dan selective coding perlu disesuaikan dengan pendekatan metodologis yang digunakan peneliti. Tidak semua penelitian kualitatif harus menggunakan ketiganya secara berurutan.

Contoh Penggunaan ATLAS.ti dalam Penelitian Perbankan Syariah

Misalnya terdapat penelitian dengan judul:

"Pengalaman Nasabah dalam Menggunakan Mobile Banking Syariah."

Peneliti melakukan wawancara kepada 15 nasabah.

Salah satu responden mengatakan:

"Saya lebih sering menggunakan mobile banking karena lebih cepat dan tidak perlu antre di bank."

Peneliti dapat memberikan kode:

  • kemudahan;
  • kecepatan;
  • efisiensi waktu;
  • tidak perlu antre.

Kemudian beberapa kode tersebut dapat dikelompokkan menjadi:

Kemudahan penggunaan

Responden lain mengatakan:

"Saya merasa lebih aman menggunakan aplikasi karena ada verifikasi saat melakukan transaksi."

Kode:

Keamanan transaksi

Jika pernyataan mengenai keamanan muncul dari banyak responden, peneliti dapat mengembangkan tema:

Persepsi keamanan layanan digital.

Dengan demikian, ATLAS.ti membantu peneliti mengorganisasi data wawancara yang jumlahnya banyak.

Analisis Tematik Menggunakan ATLAS.ti

Analisis tematik merupakan salah satu pendekatan yang dapat dibantu dengan ATLAS.ti.

Secara umum, peneliti dapat melakukan:

  1. memahami data;
  2. memberikan kode;
  3. mengelompokkan kode;
  4. mencari tema;
  5. meninjau tema;
  6. menentukan dan memberi nama tema;
  7. menyusun hasil analisis.

Misalnya hasil wawancara mengenai penggunaan bank syariah menghasilkan:

Tema 1: Prinsip syariah

Kode:

  • menghindari riba;
  • kepatuhan syariah;
  • akad.

Tema 2: Pelayanan

Kode:

  • keramahan;
  • kecepatan;
  • respons pegawai.

Tema 3: Teknologi

Kode:

  • mobile banking;
  • kemudahan transaksi;
  • keamanan.

Tema tersebut kemudian dianalisis lebih lanjut untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Menganalisis Dokumen dengan ATLAS.ti

ATLAS.ti tidak hanya digunakan untuk wawancara.

Peneliti juga dapat menggunakannya untuk menganalisis dokumen.

Contohnya penelitian:

"Analisis Kebijakan Keberlanjutan pada Bank Syariah."

Peneliti mengumpulkan:

  • laporan tahunan;
  • laporan keberlanjutan;
  • dokumen kebijakan;
  • laporan tanggung jawab sosial.

Kemudian peneliti memberikan kode seperti:

  • keberlanjutan;
  • lingkungan;
  • tanggung jawab sosial;
  • tata kelola;
  • pembiayaan hijau.

Setelah itu, peneliti dapat melihat bagaimana tema-tema tersebut muncul dalam berbagai dokumen.

Analisis Wawancara dengan ATLAS.ti

ATLAS.ti juga sangat berguna dalam penelitian yang menggunakan wawancara mendalam.

Contohnya penelitian mengenai:

"Pengalaman Pelaku UMKM dalam Memperoleh Pembiayaan dari Bank Syariah."

Peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pelaku UMKM.

Jawaban responden dapat dikode berdasarkan:

  • akses pembiayaan;
  • persyaratan;
  • proses pengajuan;
  • pelayanan;
  • kendala;
  • manfaat pembiayaan;
  • kemampuan membayar.

Setelah semua wawancara dikode, peneliti dapat membandingkan jawaban antarresponden.

Analisis Isi dengan ATLAS.ti

ATLAS.ti juga dapat digunakan untuk membantu analisis isi atau content analysis.

Misalnya peneliti ingin mengetahui bagaimana media membahas:

"Bank syariah dan ekonomi digital."

Peneliti mengumpulkan sejumlah artikel berita, kemudian memberikan kode:

  • inovasi;
  • teknologi;
  • layanan digital;
  • keamanan;
  • persaingan;
  • nasabah.

Setelah itu, frekuensi kemunculan dan hubungan antarkode dapat ditelaah sesuai metode penelitian yang digunakan.

Visualisasi dalam ATLAS.ti

ATLAS.ti menyediakan berbagai bentuk visualisasi yang dapat membantu peneliti memahami hubungan data.

Salah satunya adalah network.

Contohnya:

Keamanan
│
↓
Mobile Banking
│
┌──────┴──────┐
↓ ↓
Kemudahan Kecepatan
│ │
└──────┬──────┘
↓
Kepuasan

Visualisasi tersebut dapat membantu peneliti melihat hubungan antarkonsep.

Namun, hubungan yang ditampilkan dalam visualisasi harus didasarkan pada hasil analisis dan bukan dianggap sebagai bukti hubungan sebab-akibat secara otomatis.

Kelebihan ATLAS.ti

1. Membantu mengelola data dalam jumlah besar

Data kualitatif yang banyak dapat disimpan dan dikelola dalam satu proyek.

2. Mempermudah proses coding

Peneliti dapat memberikan kode pada bagian data tertentu tanpa harus menandai dokumen secara manual.

3. Mendukung berbagai jenis data

ATLAS.ti dapat digunakan untuk teks, PDF, gambar, audio, dan video.

4. Membantu menemukan tema

Kode dapat dikelompokkan sehingga peneliti lebih mudah mengidentifikasi tema yang muncul.

5. Memudahkan pencarian kembali data

Peneliti dapat mencari seluruh kutipan yang mempunyai kode tertentu.

6. Menyediakan visualisasi

Hubungan antarkode dan konsep dapat ditampilkan melalui jaringan atau bentuk visual lainnya.

7. Membantu dokumentasi proses penelitian

Catatan, kode, memo, dan hubungan antarkonsep dapat disimpan dalam proyek sehingga proses analisis lebih terorganisasi.

Kekurangan ATLAS.ti

1. Tidak menggantikan kemampuan peneliti

ATLAS.ti tidak menentukan makna data secara otomatis. Peneliti tetap bertanggung jawab terhadap proses interpretasi.

2. Membutuhkan waktu untuk mempelajari perangkat lunak

Pengguna baru perlu memahami berbagai fungsi dan istilah yang tersedia.

3. Coding tetap membutuhkan pertimbangan manusia

Pemberian kode bukan sekadar pekerjaan teknis. Peneliti harus menentukan apakah suatu pernyataan relevan dengan fokus penelitian.

4. Data yang buruk dapat menghasilkan analisis yang kurang baik

Jika wawancara tidak relevan atau data tidak memadai, penggunaan perangkat lunak tidak otomatis memperbaiki kualitas penelitian.

5. Interpretasi dapat menjadi terlalu bergantung pada kode

Peneliti perlu tetap memperhatikan konteks keseluruhan data agar tidak hanya melihat potongan-potongan data yang telah diberi kode.

ATLAS.ti dalam Penelitian Mahasiswa

ATLAS.ti dapat digunakan dalam berbagai penelitian mahasiswa, terutama penelitian dengan pendekatan kualitatif.

Contohnya:

Bidang perbankan syariah

Pengalaman nasabah menggunakan layanan bank syariah.

Bidang ekonomi

Strategi pelaku UMKM dalam menghadapi perubahan ekonomi.

Bidang pendidikan

Pengalaman mahasiswa dalam mengikuti pembelajaran berbasis teknologi.

Bidang sosial

Persepsi masyarakat terhadap program pemberdayaan ekonomi.

Bidang manajemen

Pengalaman karyawan dalam penerapan sistem kerja baru.

Perbedaan ATLAS.ti dengan VOSviewer

ATLAS.ti dan VOSviewer sama-sama dapat digunakan untuk membantu penelitian, tetapi mempunyai tujuan yang berbeda.

AspekATLAS.tiVOSviewer
FokusAnalisis data kualitatifAnalisis bibliometrik
DataWawancara, dokumen, audio, video, gambarData publikasi dan bibliografi
MetodeCoding, kategorisasi, analisis tematik, analisis isiCo-occurrence, co-authorship, citation, co-citation, bibliographic coupling
Objek analisisIsi dan makna dataHubungan publikasi, penulis, kata kunci, sitasi
HasilKode, kategori, tema, memo, jaringan konsepPeta jaringan, klaster, dan kepadatan
TujuanMemahami dan menafsirkan data kualitatifMemetakan perkembangan dan hubungan dalam literatur

Perbedaan ATLAS.ti dengan LISREL

ATLAS.ti dan LISREL digunakan untuk kebutuhan penelitian yang berbeda.

LISREL lebih banyak digunakan untuk penelitian kuantitatif, terutama ketika peneliti ingin menguji model persamaan struktural dan hubungan antarvariabel.

ATLAS.ti lebih banyak digunakan dalam penelitian kualitatif untuk mengorganisasi dan menganalisis data seperti wawancara, dokumen, observasi, gambar, audio, dan video.

Contohnya:

Penelitian kuantitatif:

Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan nasabah.

Dapat menggunakan LISREL jika model penelitiannya sesuai untuk SEM.

Penelitian kualitatif:

Pengalaman nasabah dalam menggunakan layanan bank syariah.

Dapat menggunakan ATLAS.ti untuk menganalisis hasil wawancara.

Tips Menggunakan ATLAS.ti

Agar penggunaan ATLAS.ti lebih efektif, peneliti dapat memperhatikan beberapa hal berikut.

  1. Tentukan pertanyaan penelitian sebelum melakukan coding.
  2. Pastikan data yang digunakan relevan dengan tujuan penelitian.
  3. Buat kode dengan nama yang jelas dan mudah dipahami.
  4. Hindari membuat terlalu banyak kode yang memiliki makna sama.
  5. Kelompokkan kode yang mempunyai hubungan.
  6. Gunakan memo untuk mencatat proses berpikir selama analisis.
  7. Periksa kembali kode secara berkala.
  8. Jangan hanya menghitung jumlah kemunculan kode tanpa memahami konteksnya.
  9. Gunakan visualisasi untuk membantu memahami hubungan data.
  10. Jelaskan metode coding dan proses analisis dalam laporan penelitian.

Kesimpulan

ATLAS.ti merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk membantu peneliti dalam mengelola dan menganalisis data kualitatif. Perangkat lunak ini dapat digunakan untuk mengolah berbagai jenis data, seperti transkrip wawancara, dokumen, PDF, catatan lapangan, gambar, audio, dan video.

Fungsi utama ATLAS.ti adalah membantu proses coding, pengelompokan data, pembentukan kategori, pencarian tema, pembuatan memo, serta visualisasi hubungan antarkonsep. Dengan adanya berbagai fungsi tersebut, peneliti dapat mengelola data penelitian yang kompleks secara lebih sistematis.

Dalam penelitian, ATLAS.ti dapat digunakan untuk analisis tematik, analisis isi, analisis wawancara, dan berbagai pendekatan kualitatif lainnya. Namun, perangkat lunak ini hanya berfungsi sebagai alat bantu. Peneliti tetap harus menentukan kode, memahami konteks data, menafsirkan temuan, dan menyusun kesimpulan berdasarkan metode penelitian yang digunakan.

Secara singkat, ATLAS.ti dapat dipahami sebagai perangkat lunak yang membantu peneliti menjawab pertanyaan:

"Apa saja tema, konsep, pola, dan hubungan yang muncul dari data penelitian kualitatif yang saya miliki?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Menu View di Microsoft Word

Tgs Inf lnf Lanjutan RUANG LINGKUP INFORMATIKA tgs tgl 28 Mei 2021 (Zahra Nur Rahmawati 8F/30)

Tugas Prakarya KOMODITAS SATWA HARAPAN 27 Maret 2021 (Zahra Nur Rahmawati/8F/30)